Minggu, 31 Mei 2009

SKPL Smart Parking





Abstraksi


Aplikasi yang di buat bertujuan untuk memudahkan perparkiran. Pengaturan parkir yang terkomputerisasi dengan baik akan membuat data-data tersusun dengan baik. Aplikasi yang digunakan ini memudahkan petugas loket parkir dalam memasukkan data kendaraan serta dapat mengetahui rincian biaya. Pengunjung yang akan memasuki area parkir akan menerima karcis parkir yang sudah diinput oleh petugas loket. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam perhitungan biaya parkir serta meminimalkan kesalahan pemasukan data kendaraan dan data transaksi.

Aplikasi ini juga menggunakan menu LogIn sebagai langkah pengamanan data yang sudah diinput oleh pihak perusahaan. Untuk membuat aplikasi perparkiran yang terkomputerisasi, menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 sebagai software yang mudah digunakan serta dapat dimengerti.

I.Pendahuluaan
1.1. Tujuan

Dokumen Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak ini dibuat sebagai pedoman dalam pembuatan aplikasi sistem perparkiran. Dokumen berisi penjabaran kebutuhan pengguna serta perangcangan sistem yang dibuat berdasarkan kebutuhan pengguna.

1.2. Ruang Lingkup Perangkat Lunak ( define project scope )
Perangkat lunak yang akan dijelaskan pada dokumen spesifikasi ini merupakan aplikasi yang membantu administrasi pengelolaan parkir secara umum untuk mengetahui keluar masuk kendaraan, mencetak karcis parkir sesuai dengan no plat, jam masuk dan keluar serta urutan karcis kendaraan parkir.

1.3. Perkiraan Biaya dan Jadwal
Alokasi jadwal :
Pelaksanaan pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu selama 1 bulan (24 hari kerja).

Alokasi Biaya :
Total biaya yang diperlukan untuk mengerjakan sistem smart parking ini adalah : Rp.29.420.000


1.4. Mendifinisikan Resiko


1.5. Project Charter
Project Charter

Judul Proyek : Smart Parking
Tanggal Mulai Proyek : 30 Mei 2009
Tanggal Akhir Proyek : 30 Juni 2009
Nomor Kontrak : ........
Informasi Anggaran : Perusahaan menganggarkan Rp. 29.420.000,-
Manajer Proyek : Surya Dharma
Tujuan Proyek : Membangun sistem smart parking sehingga mempermudah
proses Administrasi Perparkiran.

Pendekatan:
Fase Pra-development
1.Membuat spesifikasi requirement yang sesuai dengan tempat dan pengguna sistem yang akan dikembangkan
Fase System Development
1.Melakukan analisis sistem yang akan dikembangkan
2.Merancang dan mengimplementasikan sistem
3.Melakukan pengujian sistem
4.Memberikan dokumen-dokumen sistem terkait dengan item pekerjaan yang ada
5.Menyerahkan produk dan dokumen petunjuk sistem kepada instansi pendidikan

Fase Pasca Development
1.Menyediakan perangkat keras sistem
2.Melakukan instalasi sistem pada lingkungan yang sebenarnya

Peranan dan Tanggung Jawab
Peran Tanggung Jawab Project Manager Mengatur dan memonitor pengerjaan proyek dari awal sampai akhir proyek Analyst Menentukan spesifikasi lingkungan sistem dan Coding Program


Surabaya, 18 Mei 2009


Direktur ProjectManager


( M. Azhari. N.V ) ( Surya Dharma )



1.6. Target Audience
Audience yang diharapkan dapat memahami dan menggunakan dokumen ini antara lain :

  • Analis Sistem
    Menggunakan dokumen ini sebagai pedoman dalam membuat perancangan sistem.

  • Designer
    Menggunakan dokumen ini untuk pedoman dalam perancangan design sistem.

  • Programmer
    Mengunakan dokumen ini untuk mengetahui gambaran sistem yang akan dibangun.

  • Testing
    Menjadikan dokumen ini sebagai pedoman dalam melakukan testing terhadap sistem yang telah dibangun.

II. Deskripsi Umum / Requirements and User interface

2.1. Tentang Perangkat Lunak
Sistem Informasi Smart Parking ini merupakan sistem baru dan tidak terhubung dengan sistem yang lain. Perangkat lunak ini di design untuk mengatur sistem pengelolaan parkir secara umum yaitu mengelola keluar masuk kendaraan dan pengelolan user.

2.2. Fungsi-Fungsi Perangkat Lunak.
Proses bisnis dari sistem SMART PARKIR ini adalah:

1. Rekam Data Kendaraan Masuk
Mencatat data kendaraan yang masuk. Termasuk Nomor Polisi dari mobil dan waktu.Dimana waktu berdasarkan waktu yang ada di dalam sistem.Selain itu juga menghitung jumlah kendaraan yang masuk

2. Rekam Data kendaraan keluar
Mencatat data kendaraan yang keluar. Termasuk mencatat waktu keluar. Selain itu juga menghitung biaya parkir dan cetak struk parkir.

3. Pengolahan User
Proses melakukan pengaturan sistem, mulai dari startup, memonitor sistem hingga melakukan shutdown. Semua proses tersebut dilakukan oleh seorang Admin, untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. Selain itu juga mengatur hak akses bagi user.2. Menu Login

2.3. Karakteriristik dan Klasifikasi Pengguna

Klasifikasi pengguna dalam perangkat lunak ini dibagi menjadi Administrator, Petugas parkir, Manager Operasional. Sehingga dapat ditentukan karakteristik pengguna berdasarkan pembagian hak akses pada Smart Parkir adalah sebagai berikut :

1. Hak akses Administrator, dengan hak-hak sebagai berikut :
a. Hak Mengelola User
b. Hak Mengelola Hak Akses

2. Hak akses Operator / Petugas Parkir
a. Hak Memasukan Data Kendaraan Masuk/Keluar Parkir
b. Hak Cetak Tiket / Karcis Parkir

3. Hak akses Manager Operasional
a. Hak Mengelola User
b. Hak Mengganti User Id / Password
c. Hak Lihat / Cetak Transaksi Parkir

2.4. Lingkungan Operasi
Sistem ini dijalankan pada sistem operasi windows. Sistem ini menggunakan sistem Aplikasi Client Server dimana data seluruhnya tersimpan di Server sedangkan Aplikasi nya sendiri terdapat pada client yang dihubungkan dengan mengunakan Local Area Network (LAN/INTRANET).

2.5. Batasan Desain dan Implementasi
Sistem ini memiliki batasan sebagai berikut :
1. Sistem ini berjalan pada jaringan Local Area Network
2. Sistem ini mempunyai hak akses yang berbeda sesuai dengan User LogIn masing-masing pengguna.

III. Kebutuhan Antar Muka Eksternal

3.1. Antarmuka Pengguna
Antarmuka pengguna pada Smart Parkir dibedakan berdasarkan form input dan halaman output yang dimiliki oleh masing-masing pengguna berdasarkan hak akses.Form Input

Tabel 3.1 Desain Form Input

Tabel 3.2 Desain Form Output



3.2. Fitur Perangkat Lunak
1. Login
Fitur ini berfungsi sebagai penyaring pengguna dari sistem ini, yaitu hanya petugas parkir yang telah terdaftar dan terotentikasi (FTR. 01).

2. Pencatatan Kendaraan Masuk
Fitur ini berfungsi untuk mencatat data nomor plat kendaraan dan jam masuk untuk disimpan dalam database, kemudian mencetak karcis parkirnya (FTR. 02) sebagai bukti parkir kepada pemilik kendaraan.

3. Pencatatan Kendaraan Keluar
Fitur ini berfungsi untuk mencari data nomor plat kendaraan dan jam masuk dari dalam database, kemudian menghitung selisihnya terhadap jam keluar untuk mendapatkan total biaya parkir (FTR. 03).

4. Cetak Transaksi Parkir
Fitur ini berfungsi untuk mencetak transaksi parkir berdasarkan jam parkir, operator, perhari dan perbulan.

5. Pengelolaan User Id dan Password
Fitur ini berfungsi untuk melakukan penambahan dan perubahan serta penghapusan user dan password sesuai dengan hak akses masing-masing.

3.3. Antarmuka Perangkat Keras

Untuk menjalankan Smart Parking ini diperlukan 2 jenis perangkat keras, yaitu :

1. Komputer Server
Server adalah komputer yang berfungsi sebagai komputer penyimpan, pemroses, penyedia, dan pendistribusian data.

2. Komputer Client
Client adalah komputer yang berfungsi sebagai komputer pangakses dan pemasok data.
Jenis-enis perangkat keras di atas sudah meliputi semua perangkat keras yang dibutuhkan, yaitu :

1. Alat Input
Alat yang digunakan untuk memasukan input atau masukan data berupa keyboard (papan tombol) dan Mouse.

2. Alat Pemroses
Alat dimana instruksi-instruksi program diproses untuk mengolah data yang sudah dimasukan dengan alat input dan hasilnya akan ditampilkan dengan alat ourput, yang terdiri dari Central Processing Unit (CPU).

3. Alat Output
Alat yang digunakan untuk menunjukkan hasil pemrosesan suatu masukan atau input data. Pada sistem ini alat output yang digunakan adalah Monitor dan Printer.

4. Perangkat Keras Komunikasi Data
Sistem informasi ini membutuhkan perangkat keras tambahan selain yang telah disebutkan diatas, yaitu hub. Hub berfungsi sebagai penghubung antara komputer server dan komputer client.

Berikut merupakan gambar antarmuka perangkat keras yang digunakan


3.4. Antarmuka Perangkat Lunak
Antarmuka perangkat lunak pada sistem ini dibedakan menjadi dua, yaitu untuk komputer client dan server. Pada komputer client minimal harus terinstall Operating Sistem Windows 2000, Visual Basic 6.0 dan Crystal Report 7.0 serta Aphace agar aplikasi siap dapat berjalan. Sedangkan komputer server terinstall SQL Server untuk memajemen database.

4. Fitur Sistem
Secara umum fitur-fitur sistem Smart Parking dapat digambarkan sebagai berikut :




5. Kebutuhan Non Fungsional Lainya
5.1. Kebutuhan Keamanan

  • Sistem Memiliki menu LogIn untuk verifikasi pengguna

  • Setiap pengguna harus memiliki username dan password

5.2. Kebutuhan Perlindungan Keamanan

  • Smart Parking memiliki batasan hak akses untuk melakukan operasi pada sistem

  • Pengguna dapat mengubah/memasukan data-data sesuai hak akses

6. Test

Test Plan
Test Evaluation Summary
Test Strategy
Test Idea List
Test Case
Menggunakan Black Box Testing sbb :



Test Data
Test Results
Workload Analysis Model
Test Interface Specification
Test Script
Test Log

7. Kebutuhan Lain
Tidak ada

Lampiran – Lampiran
I. Use Case
1. Use Case Diagram
Berikut ini merupakan isi dari masing-masing bagian.


2. Narative Use Case

Nomor : 01
Nama Use Case : Login
Actor : Petugas Parkir
Tujuan : Menjelaskan proses inisialisasi (peng-absahan) petugas parkir
Deskripsi :
1. Petugas parkir memasukkan user name dan password saat smart parking mulai dioperasikan
2. Smart parking memeriksa kebenaran data yang dimasukkan



Nomor : 02
Nama use case : Pencatatan Kendaraan Masuk
Actors : Petugas Parkir Masuk
Tujuan : Menjelaskan proses pencatatan dan perekaman data kendaraan yang masuk
Deskripsi :
1. Smart parking menampilkan data petugas parkir masuk
2. Petugas parkir memasukkan nomor plat polisi kendaraan masuk
3. Smart parking menampilkan informasi nomor flat kendaraan yang masuk
4. Petugas parkir mencatat jam masuk kendaraan
5. Smart Parking merekam data yang sudah dimasukkan
6. Smart Parking mencetak tiket masuk kendaraan


Nomor : 03
Nama use case : Pencatatan Kendaraan Keluar
Actors : Petugas Parkir Keluar
Tujuan : Menjelaskan proses pencatatan, pencocokkan data kendaraan yang keluar serta menghitung total biaya parkir
Deskripsi :
1. Smart parking menampilkan data petugas parkir keluar
2. Petugas parkir memasukkan nomor plat polisi kendaraan keluar
3. Smart parking mencocokkan data kendaraan yang akan keluar dengan tiket
4. Petugas parkir mencatat jam keluar kendaraan
5. Smart Parking menghitung total biaya parkir kendaraan



Nomor : 04
Nama use case : Pengolahan User
Actors : Administrator
Tujuan : Mengolah hak akses user smart parkir
Deskripsi :
1. Smart parking menampilkan halaman pengolahan user
2. Admin menambahkan data user smart parkir
3. Admin mengupdate data user smart parkir
4. Admin menghapus data user smart parkir



3. Use Case Description



II. Business Activity Diagram
Operator Pintu Masuk Parkir


Operator Pintu Keluar Parkir


Administrator


III. Class Diagram


IV. Sequence Diagram


LogIn System


Kendaraan Masuk



Kendaraan Keluar




V. Data Model

VI. Desain Input


LogIn System


Kendaraan Masuk / Keluar


VII. Verifikasi dan Validasi

Verifikasi : Merupakan metode pembuktian dari kebenaran suatu sistem, apakah sistem yang dibangun merupakan sistem yang tepat berdasarkan dengan spesifikasi yang ada, dengan menggunakan metode formal.



Validasi :
adalah bagian pembuktian apakah sistem yang dibangun sesuai dengan keinginan user. Validasi adalah bagian komplementari / pelengkap dari proses verifikasi. Pada dasarnya, proses verifikasi dilakukan pada tahap awal, sejak dibuat spesifikasi-spesifikasi formal, setelah proses verifikasi selesai, dilanjutkan tahap validasi.

Fiture-fiture :
1. Login
Fitur ini berfungsi sebagai penyaring pengguna dari sistem ini, yaitu hanya petugas parkir yang telah terdaftar dan terotentikasi (FTR. 01).

2. Pencatatan Kendaraan Masuk
Fitur ini berfungsi untuk mencatat data nomor plat kendaraan dan jam masuk untuk disimpan dalam database, kemudian mencetak karcis parkirnya (FTR. 02) sebagai bukti parkir kepada pemilik kendaraan.

3. Pencatatan Kendaraan Keluar
Fitur ini berfungsi untuk mencari data nomor plat kendaraan dan jam masuk dari dalam database, kemudian menghitung selisihnya terhadap jam keluar untuk mendapatkan total biaya parkir (FTR. 03).

4. Cetak Transaksi Parkir
Fitur ini berfungsi untuk mencetak transaksi parkir berdasarkan jam parkir, operator, perhari dan perbulan. ( FTR. 04).

5. Pengelolaan User Id dan Password
Fitur ini berfungsi untuk melakukan penambahan dan perubahan serta penghapusan user dan password sesuai dengan hak akses masing-masing.(FTR. 05).

Problem / Requirements :

Hasil Design

Pada saat form tampilan mobil masuk dan keluar No. Register karcis parkir tidak terlihat pada layar monitor operator / petugas parkir maka perlu ditambahkan pada form register karcis parkir untuk memudahkan pada saat operator parkir bagian mobil keluar dapat dengan mudah mencocokkan register karcis parkir yang diberikan oleh pemilik mobil ke petugas.

Hasil Analisa : FTR. 03


Sekian dan Trimakasih..

Minggu, 12 April 2009

Jawaban UTS "Smart Parking"

INCEPTION.

Smart parkir ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut:
1. Memvalidasi data parkir kendaraan yang masuk dan keluar.
2. Menghitung biaya parkir

Perkiraan biaya dan Jadwal

Alokasi jadwal :
Pelaksanaan pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu selama 1 bulan (24 hari kerja).

Alokasi Biaya :
Total biaya yang diperlukan untuk mengerjakan sistem smar parkir ini adalah : Rp.21.600.000

Mendefinisikan Resiko

Develop Business Use Case Smart Parking

Nomor : 01
Nama use case : Login
Actor : Petugas Parkir
Tujuan : Menjelaskan proses inisialisasi (peng-absahan) petugas parkir
Deskripsi :
1. Petugas parkir memasukkan user name dan password saat smart parking mulai dioperasikan
2. Smart parking memeriksa kebenaran data yang dimasukkan

Nomor : 02
Nama use case : Pencatatan Kendaraan Masuk
Actors : Petugas Parkir Masuk
Tujuan : Menjelaskan proses pencatatan dan perekaman data kendaraan
Yang masuk
Deskripsi :
1. Smart parking menampilkan data petugas parkir masuk
2. Petugas parkir memasukkan nomor plat polisi kendaraan masuk
3. Smart parking menampilkan informasi nomor flat kendaraan yang masuk
4. Petugas parkir mencatat jam masuk kendaraan
5. Smart Parking merekam data yang sudah dimasukkan
6. Smart Parking mencetak tiket masuk kendaraan

Nomor : 03
Nama use case : Pencatatan Kendaraan Keluar
Actors : Petugas Parkir Keluar
Tujuan : Menjelaskan proses pencatatan, pencocokkan data kendaraan
yang keluar serta menghitung total biaya parkir
Deskripsi :
1. Smart parking menampilkan data petugas parkir keluar
2. Petugas parkir memasukkan nomor plat polisi kendaraan keluar
3. Smart parking mencocokkan data kendaraan yang akan keluar dengan tiket
4. Petugas parkir mencatat jam keluar kendaraan
5. Smart Parking menghitung total biaya parkir kendaraan

ELABORATION.

Mengidentifikasi Arsitektur
........
CONSTRUCTION.
Memodelkan, membangun dan test sistem
- Mulai membangun modul-modul aplikasi berdasarkan hasil perancangan
- Membangun keseluruhan aplikasi sampai selesai
- Mengembangkan Dokumentasi  Laporan Mingguan, Project Plan

TRANSITION.
- System TestingTesting modul-modul aplikasi mulai dilakukan.
- Alpha testingtesting aplikasi yang dilakukan oleh developer
- Beta Testingtesting aplikasi yang dilakukan oleh customer, dalam hal ini system
owner.
- User Testing Pengguna aplikasi mulai mencoba aplikasi smart parkir
- System ReworkInstalasi aplikasi Smart Parkirpada tiap-tiap workstation yang
membutuhkan.
- System DevelopmentMulai membangun jaringan workstation.
- Sistem Smart Parkir mulai dioperasikan di Mall.
- Support System  Mulai didukung dengan alat-alat yang lain, misalnya Printer
Sebagai cetak tiket/struk parkir, Hub ethernet sebagai koneksi jaringan.
- Memanage permintaan perubahanApabila ada permintaan dari customer.
- Memonitor sistem smart parkir yang sedang berjalan.
- Menyiapkan dan recover dari kerusakan

Selasa, 10 Maret 2009

Requirement Analisys Model Rational Unified Process

Analisa Kebutuhan [ Requirement Analysis ]

Tujuan Analisa Kebutuhan adalah mendeskripsikan sistem apakah yang harus dilakukan, memungkinkan pengembang dan konsumen sepakat pada deskripsi tersebut. Untuk mencapai ini, kami mendapatkan, mengelola, dan mendokumentasikan fungsionalitas dan batasan yang diperlukan, melacak dan mendokumentasikan bisnis proses dan keputusan.
Dokumen visi dibuat dan kebutuhan stakeholder didapatkan. Aktor diidentifikasi, mewakili pengguna, dan sistem lain yang dapat berinteraksi dengan sistem yang dikembangkan. Use cases diidentifikasi, mewakili perilaku sistem. Dikarenakan Use cases dikembangkan menurut kebutuhan aktor, sistem cenderung lebih relevan pada pengguna. Gambar berikut menunjukkan contoh model use-case untuk satu sistem daur ulang mesin.


Setiap use case dijabarkan secara rinci. Deskripsi use case menunjukkan bagaimana sistem berinteraksi tahap demi tahap dengan aktor dan apa yang dilakukan sistem. Persyaratan non fungsional dijabarkan dalam Spesifikasi Pelengkap.
Fungsi use case sebagai pemersatu dari keseluruhan sistem pada siklus pengembangan. Model use case digunakan selama mengungkap, menganalisa dan mendesain, dan menguji persyaratan.
Pemodelan use case terdiri dari 3 macam komponen, yaitu sebagai berikut :
Use case, yaitu menggambarkan sistem dengan Actor
Actor, yaitu orang atau sistem luar yang terlibat atau yang terkait dengan sistem yang akan dikembangkan.
Scenario, yaitu deskripsi lebih detail dari use case dalam menggambarkan interaksi antara sistem dengan actor. Jika use case mempunyai lebih dari satu interaksi maka dapat juga dideskripsikan scenario alternatif. Kadang-kadang penggambaran diagram use case tidak dilengkapi dengan scenario.
Dari beberapa fase yang ada , tiap fase memiliki suatu major milestone yang menandakan akhir dari awal dari phase selanjutnya dan dapat terdiri dari beberapa iterasi. Dimensi ini terdiri atas Inception, Elaboration, Construction, dan Transition.



Milestones

1. Inception
1.1 Evaluation Criteria
Persetujuan stakeholder atas definisi ruang lingkup dan biaya atau jadwal
memperkirakan :
• Kesepakatan atas sekumpulan kebutuhan telah dibuat dan ada pemahaman bersama tentang kebutuhan-kebutuhan tersebut.
• Kesepakatan bahwa perkiraan biaya atau jadwal, prioritas, resiko dan proses pengembangan sudah tepat.
• Semua resiko telah diidentifikasikan dan ada strategi penangan untuk setiap resiko tersebut.
Proyek mungkin akan dibatalkan atau dipertimbangkan kembali jika gagal mencapai milestone ini.

1.2 Artifacts



2. Elaboration
Akhir fase elaborasi adalah milestone proyek ke dua yang terpenting. Pada
titik ini dilakukan pendefinisian tujuan dan ruang lingkup system secara detil,
pilihan arsitektur dan resolusi terhadap resiko utama.

2.1 Evaluation Criteria
• Vision dan kebutuhan produk stabil.
• Arsitektur stabil.
• Pendekatan utama yang digunakan dalam pengujian dan evaluasi sudah terbukti.
• Pengujian dan evaluasi terhadap prototype yang dapat ieksekusi telah menunjukan elemen yang berisiko tinggi telah diperiksa dan diresolve dengan baik.
• Rencana iterasi untuk fase konstruksi cukup detil dan rinci sehingga memungkinkan pekerjaan mulai dilaksanakan.
• Rencana iterasi untuk fase konstruksi didukung dengan perkiraan yang matang.
• Semua stakeholders setuju bahwa vision sekarang dapat dipenuhi jika rencana yang telah disusun di eksekusi untuk mengembangkan system yang lengkap, dalam konteks arsitektur yang ada saat ini.
• Penggunaan sumber daya actual vs yang direncanakan masih dapat diterima
Proyek ini mungkin dapat dibatalkan atau dipertimbangkan untuk diperbaiki jika gagal mencapai milestone ini.

2.2 Artifacts



3 Construction
3.1 Evaluation Criteria
Kriteria evaluasi untuk fase konstruksi adalah jawaban atas pertanyaan berikut:
• Apakah product release yang bersangkutan sudah cukup stabil dan matang untuk dideploy di lingkungan pengguna?
• Apakah semua stakeholders siap untuk melakukan proses transisi dalam lingkungan pengguna?
• Apakah pengguna sumber daya secara aktual vs yang direncanakan masih dapat diterima?
Transisi mungkin harus ditunda karena satu release jika proyek gagal mencapai milestone ini

3.2 Artifacts



4 Transition
4.1 Evaluation Criteria
Kriteria evaluasi untuk fase transisi adalah jawaban atas pertanyaan berikut :
• Apakah pengguna puas ?
• Apakah penggunaan aktual sumber daya vs rencana dapat diterima ?

4.2 Artifacts



5. Training and Resources

Tim pengembang harus sudah memahami konsep RUP dan pengelolaan kebutuhan system dengan menggunakan metodologi RUP, software yang digunakan adalah Requisite Pro dan Rational Rose.

Kamis, 05 Maret 2009

Rational Unified Process (RUP)‏

Merupakan suatu metode rekayasa perangkat lunak (RPL) dikembangkan dengan mengumpulkan berbagai best practises yang terdapat dalam industri pengembangan perangkat lunak. Ciri utama metode ini adalah menggunakan use-case driven dan pendekatan iteratif untuk siklus pengembangan perankat lunak....RUP gunakan konsep object oriented, dengan aktifitas yang berfokus pada Unified Model Language (UML).

Keunggulan metodologi bekerja berorientasi obyek dibandingkan dengan metodologi prosedural yang banyak dipakai di era jadul (jaman dahulu) adalah setiap kegiatan yang termasuk di dalamnya dapat dilakukan secara paralel, sehingga dapat mempersingkat waktu dan menghemat sumber daya yang ada dibandingkan dengan metodologi berorientasi prosedural yang menuntut diselesaikannya dengan baik dari setiap tahapan kegiatan. Jika kemudian terdapat kekurangan/kesalahan di fase sebelumnya maka kemungkinan besar harus diulang dari awal dalam proses pekerjaannya.

Rational Unified Process (RUP) yaitu suatu metode rekayasa software yang dikembangkan dari kumpulan berbagai best practises yang ada di industri pengembangan software. Ciri dari metode ini adalah menggunakan use-case driven dan pendekatan iteratif untuk siklus software software. Konsep RUP sendiri adalah object oriented, dengan aktifitas yang berfokus pada pengembangan model yang menggunakan UML. Untuk lebih jelas dapat digambarkan sebagai berikut :



Gambar Arsitektur Rational Unified Process

Melalui gambar dapat dilihat bahwa RUP memiliki, yaitu:

* Dimensi pertama digambarkan secara horizontal. Digambarkan dalam beberapa fase, tiap fasenya memiliki suatu major milestone yang menandakan akhir dari awal dari phase selanjutnya dan dapat terdiri dari beberapa iterasi. Dimensi ini terdiri atas Inception, Elaboration, Construction, dan Transition.

* Dimensi kedua digambarkan secara vertikal. mewakili aspek-aspek statis dari proses pengembangan software yang dikelompokkan ke dalam beberapa workflow. ini terdiri atas Business Modeling, Requirement, Analysis and Design, Implementation, Test, Deployment, Configuration dan Change Manegement, Project Management, Environtment.

Hubungan antara Dimensi pertama dan yang kedua sebagai berikut
1. Pada fase Inception
Pada fase ini akan dikerjakan beberapa workflow(disipin). pada Business modeling developer menguraikan visi organisasi dan bagaimana caranya menggunakan visi ini sebagai dasar proses dengan kata lain membuat business casenya. Pada Requirement developer dapat mengetahui permintaan dari user. Pada analysis & design developer harus dapat benar-benar mengerti akan keinginan dari user agar dan dapat membuat design sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika analysis sudah mantap developer dapat mengimplentasikan designnya di tahap Implementation dan pengetesan sudah di mulai dilakukan namun belum sampai ke tahap deployment(pengembangan). Pada fase ini Configuration dan Change Manegement sudah mulai digunakan karena terhubung dengan Implentation yang berguna sebagai validasi. Project Management diperlukan pada inception untuk mengatur kerja dari project itu, serta memperhatiakan ruang lingkup ataupun lingkungan agar dapat menciptakan good business sense sehingga proyek dapat dilanjutkan

2. Pada fase Elaboration
Pada fase ini masih terdapat perancangan software dengan menspesifikasikan fitur software sampai perilisan prototipe versi Betha, pada workflows business modeling dan requirement. Workflow yang paling dominan pada fase ini adalah analysis & design dan implementation karena pada fase ini pembuatan program mulai difokuskan sehingga sepanjang tahap ini dilakukan pengetesan pada workflow test. Di fase elaboration ini dimulai pengembangan jika terdapat kekurangan pada sistem tersebut yang dilakukan pada workflow deployment. Configuration dan Change Manegement, Project Management, Environtment seperti pada gambar diatas menunjukan adanya peningkatan karena dipengaruhi kebutuhan dari software itu sendiri agar sesuai dengan yang diharapkan.

3. Pada fase Construction
Pada fase ini implementasian rancangan software yang telah dibuat hampir selesai boleh dikata 75% sehingga terlihat pada grafik semakin menurun grafiknya pada workflows business modeling dan requirement. Workflows analysis & design terlihat naik turun karean disesuaikan dengan kebutuhan karena pada tahap ini sangat terfokus pada workflows implementation, test and deployment. Maka grafik ketiganya sangat bedsar dan meningkat dibandingkan dengan yang lain. Untuk configuration and change management pada tahap ini pun meningkat untuk menyesuaikan dengan implementsainya agar validasi sistem benar terelasasi, karena kekonsistenan data sangatlah diperlukan dan berpengaruh. Pada akhir tahap ini, software versi akhir yang sudah disetujui administrator dirilis beserta dokumentasi software.

4. Pada fase Transiton
Pada tahap ini Business Modeling, Requirement, Analysis and Design, Implementation, Test, Deployment, Configuration dan Change Manegement, Project Management, Environtment Instalasi measuki tahap penyelesaian, pada tahap ini juga software sudah siap pakai. Pada fase ini workflow deployment dilakukan sosialisasi dan instalasi software.

Test melakukan uji coba untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul. Uji coba terdiri dari dua jenis, yaitu uji coba proses yang dilakukan secara otomatis oleh software dan uji coba antar muka yang dilakukan oleh tester. Deployment melakukan pemaketan, instalasi, konversi data, konfigurasi aplikasi.
Pada penggunaan kedua standard tersebut diatas yang berorientasi obyek (object orinted) memiliki manfaat yakni:

• Improve productivity
Standard ini dapat memanfaatkan kembali komponen-komponen yang telah tersedia/dibuat sehingga dapat meningkatkan produktifitas

• Deliver high quality system
Kualitas sistem informasi dapat ditingkatkan sebagai sistem yang dibuat pada komponen­komponen yang telah teruji (well-tested dan well-proven) sehingga dapat mempercepat delivery sistem informasi yang dibuat dengan kualitas yang tinggi.

• Lower maintenance cost
Standard ini dapat membantu untuk menyakinkan dampak perubahan yang terlokalisasi dan masalah dapat dengan mudah terdeteksi sehingga hasilnya biaya pemeliharaan dapat dioptimalkan atau lebih rendah dengan pengembangan informasi tanpa standard yang jelas.

• Facilitate reuse
Standard ini memiliki kemampuan yang mengembangkan komponen-komponen yang dapat digunakan kembali untuk pengembangan aplikasi yang lainnya.

• Manage complexity
Standard ini mudah untuk mengatur dan memonitor semua proses dari semua tahapan yang ada sehingga suatu pengembangan sistem informasi yang amat kompleks dapat dilakukan dengan aman dan sesuai dengan harapan semua manajer proyek IT/IS yakni deliver good quality software within cost and schedule time and the users accepted.

.............!